Tampilkan postingan dengan label IT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IT. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Desember 2013

Tips Agar Baterai Android Tahan Lama



Telepon Seluler menjadi pusat seluruh kegiatan masyarakat modern. Mulai dari mobilitas, penunjang kerja, hingga sarana hiburan. Banyaknya hal yang bisa dikerjakan oleh smartphone seperti Android dan iOS membuat baterai tidak tahan lama.


Inilah cara agar baterai Android awet dan tahan lama:


1. Jaga suhu handphone tetap dingin


Suhu ponsel yang terlalu panas akan menyebabkan baterai melemah ketahannya. Terlebih apabila terlalu sering panas, baterai menjadi lebih cepat rusak.
Cara agar baterai tidak cepat panas adalah jangan letakkan ponsel di tempat yang terkenal sinar matahari langsung. Juga jangan terlalu sering bermanin game di ponsel, penggunaan terus-menerus dapat menyebabkan baterai overheating.


2. Turunkan brightness layar dan screen time out


Layar adalah komponen utama dalam sebuah smartphone. Namun layar jugalah penyebab baterai ponsel cepat habis. Untuk itu, bagi anda yang ingin baterai ponsel Android atau iPhone lebih awet maka saya sarankan agar brigthness layar diturunkan.
Selain itu, atur juga kapan layar akan mati secara otomatis bila tidak disentuh. Menurut saya aturlah di waktu 1-2 menit. Lebih dari itu, baterai anda akan sangat cepat habis.


3. Aktifkan power saving mode


Aktifkan power saving mode di setting. Fungsi utama power saving mode adalah ia akan secara otomatis melakukan teknik untuk menghemat baterai seperti mematikan Bluetooth, atau WiFi hingga menurunkan brightness layar.


4. Matikan koneksi yang tidak perlu


Ponsel smartphone baik itu Android, iPhone, hingga Windows Phone dibekali kemampuan untuk menjaga konektivitas penggunanya. Mulai dari Bluetooth, WiFi, hingga 3G. Penggunaan layanan tersebut akan menurunkan ketahanan baterai ponsel.
Jadi untuk menghemat baterai ponsel anda, gunakan fasilitas tersebut dikala anda butuh saja. Jangan digunakan secara terus menerus bila tidak ingin baterai posen cepat habis.


5. Perhatikan penggunaan flash dan wallpaper


Flash di kamera akan memakai daya ponsel yang besar. Karenanya bila di tempat terang jangan gunakan flash kamera.
Beitu pula dengan wallpaper 3D animasi. Wallpaper dinamis akan menghabiskan baterai ketimbang wallpaper statis.


6. Hentikan kegiatan mencari sinyal


Terkadang ada saatnya kita berada di posisi yang susah dapat sinyal. Dalam keadaan ini ponsel kita akan tetap aktif mencari sinyal.
Proses pencarian sinyal ponsel tersebut akan memakan daya tahan baterai. Sehingga bila tidak terlalu dibutuhkan matikan saja paket internetnya.


Semoga Bermanfaat :-)

Minggu, 15 September 2013

10 Perusahaan Hebat yang Dibangun 'Alumni' Apple



Bukan rahasia lagi jika Apple dijejali oleh karyawan dengan talenta tinggi. Namun tak selamanya orang-orang hebat itu menetap di Apple, jika dirasa sudah cukup mereka pun meninggalkan zona nyaman dan merintis perusahaan sendiri. 

Hebatnya, perusahaan yang mereka dirikan itu pun tak kalah suksesnya. Bidang yang dijalani pun beragam, mulai dari ranah cloud computing, gaming, hingga home appliance. Yang pasti mereka tambah sukses setelah menjadi alumni Apple.


1. Andy Rubin - Android
Satu nama yang patut diambil menjadi contoh sukses adalah Andy Rubin. Siapa sangka mantan engineer Apple di awal tahun 1990-an ini nantinya akan menghadirkan lawan berat bagi iPhone yang dibekali iOS.

Ya, Rubin adalah pembesut Android, perusahaan software mobile open source yang sekarang identik dengan logo robot hijau.

Memang, Android kemudian dibeli oleh Google. Namun Rubin kini tetap membidani Android di Google untuk melawan Apple.

Di sisi lain Apple tentu menjadi uring-uringan dibuatnya. Terlebih geliat Android kian gesit di ranah perangkat mobile. Bahkan Apple sampai menuduh Rubin mengambil banyak inspirasi untuk membuat Android kala masih bekerja di Apple.


2. Nest Labs - Tony Fadell
Tony Fadell merupakan sosok kunci di balik terciptanya iPod. Ya, memang ketika masih bekerja di Apple, Fadell memiliki peran penting dalam mendefinisikan konsep pemutar musik digital.

Hingga akhirnya Fadell meninggalkan posisi senior vice president and iPod designer pada tahun 2008, dan mendirikan perusahaan sendiri bernama Nest Labs pada tahun 2010.

Kiprah Fadell di Nest Labs juga terbilang cemerlang. Perusahaan ini pun berhasil mendorong kehadiran produk baru yang disebut thermostat. Ini adalah gadget pintar yang dapat mengidentifikasi suhu ruangan sehingga dapat mengatur penggunaan pendingin atau penghangat ruangan. Sehingga perangkat ini diharapkan dapat menghasilkan efisiensi penggunaan energi.

Apple saja tertarik dengan produk ini dan turut menggandeng Nest untuk menjajakan thermostat di toko online miliknya.

3. Path - Dave Morin
Dave Morin awalnya berguru di 'kampus' Apple untuk bidang marketing. Namun tak lama kemudian, ia mencari peruntungan di dunia jejaring sosial dengan bergabung dengan Facebook.
Tak puas sampai di situ, Morin pun ingin membangun kerajaan usahanya sendiri dengan meluncurkan Path, jejaring sosial yang lebih intim.

4. Flipboard - Evan Doll
 Evan Doll pernah merajut mimpi di Apple selama 6 tahun. Awalnya ia merintis karir sebagai pro video software engineer, hingga akhirnya dipercaya sebagai senior iPhone software engineer.
Sayang, Doll memutuskan untuk meninggalkan Apple pada pertengan 2009. Ia pun mulai mewujudkan mimpinya untuk memiliki perusahaan sendiri dengan menjadi salah satu pendiri Flipboard, aplikasi social network agregator.

5. Posterous - Sachin Agarwal
Posterous memang tak terlalu populer bagi sebagian pengguna internet. Namun situs yang digawangi Sachin Agarwal ini sukses memikat Twitter. Hingga akhirnya diakuisisi oleh situs mikroblogging itu.
Posterous sendiri merupakan perusahaan yang pendirinya juga merupakan alumni Apple. Ya, Agarwal diketahui pernah bekerja di Apple, namun ia hengkang pada tahun 2008 untuk merintis Posterous.

6. LinkedIn - Reid Hoffman
Hampir satu dekade sebelum meluncurkan LinkedIn pada tahun 2003, Reid Hoffman ternyata juga pernah bekerja di Apple sebagai experience architect.
Menurut akun LinkedIn-nya, Hoffman pernah memegang sejumlah proyek penting kala masih bekerja di Apple. Di antaranya adalah terkait eWorld International dan Global Access Assistant.

Tak familiar dengan proyek tersebut? Memang dua proyek itu sudah lama digarap Apple, di pertengahan tahun 1990-an. Yang pasti Hoffman pernah merasakan suasana Apple kala Steve Jobs belum comeback.

7. Electronic Arts - Trip Hawkins
Trip Hawkins pernah bekerja sebagai direktur marketing di Apple bertahun-tahun lalu. Namun ia memutuskan berhenti menjadi pegawai untuk kemudian membuat perusahaan bernama Electronic Arts (EA) pada tahun 1982.
Pentolan Apple, Steve Jobs kala itu disebut-sebut kecewa dengan keputusan Hawkins. Bahkan sikap Hawkins itu disebut sebagai 'tindakan pengkhianatan'.

Namun meski kurang mendapat simpati dari Jobs, jalan yang dipilih Hawkins ternyata sangat tepat. EA menjadi produsen game ternama hingga saat ini.

Ia pun turut mengajak koleganya yang merupakan alumni Apple seperti Dave Evans dan Pat Marriott untuk sama-sama merintis bisnis di industri game.

8. Upthere - Bertrand Serlet
Bertrand Serlet dianggap sebagai salah satu mantan karyawan Apple yang jenius. Ia merupakan figur penting dalam pengembangan sistem operasi Mac.
Serlet hengkang dari Apple pada pertengahan 2011 lalu, untuk kemudian bergabung dengan 'jebolan' Apple lainnya untuk membuat Upthere.

Upthere merupakan startup layanan cloud OS yang berpusat di Palo Alto. Layanan ini disebut-sebut bakal mengubah cara orang untuk menyimpan file mereka secara online.


9. Meeteor - Chris Lee
Meeteor merupakan layanan jejaring bagi para profesional untuk membantu pengguna untuk saling berinteraksi.
Perusahaan startup ini dirintis oleh Chris Lee, ia merupakan mantan project manager Apple yang bertanggung jawab dalam pengembangan Max OS X.

10. Salesforce - Marc Benioff
Marc Benioff merupakan pendiri dan CEO salesforce.com. Ia memang terbilang singkat merasakan suasana kantor Apple. Sebab ia cuma menghabiskan waktu summer working di Apple pada tahun 1980-an.
Namun ternyata hal itu berarti banyak bagi pria ini. Dalam kesan-kesannya, Benioff mengungkapkan bahwa pengalaman bekerja sesaat di Apple mengingspirasi dirinya untuk menjadi seorang entrepreneur dengan ide revolusioner.

Sumber: detik.com

Senin, 11 Juni 2012

Cloud Computing (Apa Manfaatnya Buat Kita ?)


     Cloud Computing dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan istilah komputasi awan. Berbagai artikel mengenai komputasi awan saat ini sudah banyak menghiasi berbagai media, baik media cetak, media elektronik dan tentu saja banyak kita temukan di internet. Sehingga tidak aneh kalau kita mulai sering mendengar istilah ini dan mulai familiar dengannya. Berbagai layanan berbasis komputasi awan juga semakin banyak berkembang dan semakin gencar dikomunikasikan. Apa itu komputasi awan? Apa saja layanan yang menggunakan teknologi ini? Apa manfaatnya buat kita?

     Selama ini banyak proses komputasi yang dilakukan di dalam perangkat yang kita gunakan. Proses komputasi tersebut dilakukan oleh perangkat melalui berbagai macam aplikasi yang kita gunakan, seperti Microsoft Excel saat kita mengolah data, atau mendengarkan lagu menggunakan aplikasi MP3 player. Nah, dengan layanan berbasis komputasi awan, sebagian proses komputasi tidak dilakukan di perangkat yang kita gunakan, tetapi dilakukan di infrastruktur, platform atau aplikasi yang berada di jaringan komputer yang terhubung dengan internet. Berbagai komponen di jaringan inilah yang disebut dengan awan. Tentu saja teknologi ini akan membuat perangkat kita bekerja lebih efisien karena sebagian proses komputasinya dikerjakan di “awan”.

     Syaratnya perangkat kita terhubung dengan “awan” tersebut, atau terhubung dengan internet. Terdengar rumit? Sebetulnya tidak. Banyak dari kita yang sudah pernah atau bahkan sudah sering menggunakan layanan berbasis teknologi ini. Layanan email dari Google, yaitu Gmail sebenarnya juga salah satu bentuk layanan berbasis komputasi awan. Saat kita membuat akun Gmail, kita mendapatkan ruang penyimpanan untuk e-mail beserta file lampirannya di komputer atau server milik Google, mulai dari 7 GB dan terus bertambah. Setelah kita punya akun Gmail, kita juga bisa menggunakan Google Docs yang merupakan aplikasi seperti Microsoft Office, mulai dari membuat dokumen seperti Microsoft Word, spreadsheet seperti Microsoft Excel, membuat presentasi atau rekayasa gambar / grafis. Proses komputasinya dilakukan di server Google, sehingga kita tidak perlu melakukan instalasi berbagai aplikasi tersebut di komputer kita. Jadi bukan hanya meringankan beban komputasi pada perangkat yang kita gunakan, masalah biaya untuk membeli lisensi yang biasa menyertai saat kita ingin menggunakan aplikasi seperti Microsoft Office bisa kita dapatkan dengan lebih efisien.

     Saat ini popularitas CD music sudah mulai memudar. Banyak orang lebih suka menggunakan format mp3 untuk mendengarkan berbagai lagu favorit di berbagai gadget seperti ponsel, PC tablet, mp3 player seperti iPod atau di komputer. Media penyimpan yang ada di ponsel tentu saja terbatas. Layanan media penyimpan berbasis komputasi awan menjadi solusinya. Bahkan dengan menggunakan layanan tersebut, kita bisa memutar berbagai lagu dengan koleksi yang sama (lengkapnya) meski kita mengaksesnya dari berbagai gadget atau perangkat yang berbeda. Tentu saja semua gadget harus terhubung dengan internet. Proses tersebut biasa disebut dengan sinkronisasi data antar perangkat.

     Akhir-akhir ini layanan berbasis komputasi awan terus berkembang. Cisco, perusahaan perangkat teknologi informasi ternama di dunia pun memasukkan layanan ini dalam daftar sepuluh tren yang akan mengubah dunia dalam jangka waktu sepuluh tahun. Prediksinya pada tahun 2020, sepertiga dari data akan berada atau melalui “awan”. Pendapatan yang diperoleh dari penyediaan layanan ini akan terus tumbuh 20% per tahun. Sebagai contoh, untuk layanan cloud music, kini sudah banyak pilihan yang terus bersaing di tingkat global, seperti: Apple iCloud, Google Music dan Amazon Cloud Player. Google Music memungkinkan penggunanya mengunggah koleksi musiknya ke web, untuk memutarnya kembali melalui aplikasi web dan perangkat berbasis Android. Pada bulan Maret yang baru lalu, akhirnya Google mengintegrasikan layanan cloud musicnya ke dalam Google Play. Sayangnya sekarang layanan ini baru bisa dinikmati secara gratis di Amerika Serikat, karena masih dalam versi beta atau dalam masa pengembangan.